“Modal kami sekitar Rp8 juta per hektare, itu pun dari pinjaman. Saya sendiri punya lima hektare yang gagal panen. Kalau dihitung, kerugian saya sudah mencapai sekitar Rp40 juta, belum termasuk kerugian petani lainnya,” ujar Bambang kepada Banggaipost, Sabtu (18/7/2026).
Kerugian yang dialami Bambang hanyalah sebagian kecil dari penderitaan petani lainnya. Dengan luas lahan terdampak yang diperkirakan mencapai sekitar 30 hektare, nilai modal yang terancam tidak kembali diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Bagi para petani, angka-angka itu bukan sekadar hitungan di atas kertas. Di baliknya ada cicilan yang harus dibayar, kebutuhan keluarga yang tetap berjalan, hingga kekhawatiran apakah mereka masih mampu membeli benih untuk musim tanam berikutnya.
“Sudah gagal panen, kami juga dihadapkan dengan utang modal yang kami pinjam. Ini sangat memberatkan,” kata Bambang.
Yang membuat mereka semakin putus asa, serangan hama tikus bukan baru terjadi kali ini. Dalam dua musim tanam terakhir, hasil panen terus menurun. Namun musim tanam tahun ini menjadi pukulan paling berat.
