Ajakan itu tidak membuatnya meninggalkan tempat tinggalnya. Ia tetap bertahan di tepian hutan dan sesekali turun ke Desa Sampaka untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
Bagi Nenek Igo, kehidupan di hutan telah menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Kawasan yang ditempatinya bukan lingkungan baru yang harus dipelajari, melainkan tempat yang telah dikenalnya sejak masa kecil.
Pilihan untuk tetap tinggal di sana menjadi salah satu bagian menonjol dalam kisah hidupnya. Di tengah perubahan kehidupan masyarakat dan semakin luasnya akses terhadap fasilitas modern, Nenek Igo tetap menjalani keseharian dengan cara yang telah lama dikenalnya.
Masyarakat setempat mengenalnya dengan julukan “Sang Penjaga Alam Tompotika”. Sebutan tersebut menyertai kisahnya sebagai perempuan yang bertahan di kawasan hutan dan menyampaikan pesan agar hutan leluhur tidak dirusak.
Kisah yang hidup di tengah masyarakat
Selain perjalanan hidup dan keterampilannya, nama Nenek Igo juga disertai cerita mengenai kemampuan yang dianggap luar biasa oleh sebagian masyarakat.
Salah satu cerita yang beredar menyebutkan kemampuannya berjalan di atas dedaunan hutan. Kisah tersebut menjadi bagian dari penuturan masyarakat mengenai sosok Nenek Igo.
