Kita tidak boleh puas dengan pabrik-pabrik yang ada saat ini, karena pabrik tersebut tidak melakukan proses pengolahan, sehingga kehadiran produk lokal tidak dapat kita tampilkan dalam bentuk barang jadi (produksi asli Balut). Justru yang terjadi adalah ikan hanya dibekukan, disimpan dan dikirim. Proses pengolahannya di wilayah Jawa atau Makassar dan memakai merek pabrik Makassar dan/atau Surabaya.
Pada akhirnya, semua kembali pada komitmen kita bersama untuk mewujudkan industrialisasi di bidang perikanan yang berdampak untuk semua lapisan masyarakat, butuh keseriusan pemerintah daerah dalam menilik potensi yang ada di wilayahnya.
Bukan rahasia umum lagi, di luar sana, ketika mendengar nama “Banggai Laut”, praktis orang-orang mendakwa/klaim daerah ini memiliki potensi penghasil ikan yang menjanjikan (baca: melimpah). Itu fakta. Sebab, laut telah lama menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir di Bumi Tano Monondok ini. **
