“Ada berbagai bahan produk, kurang lebih 35 produk pada saat Expo Sulawesi Tengah di Pamona,” ungkap Kadis Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah Muhammad Neng, S.T., M.M.
Lebih lanjut ia mengatakan, Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah juga mengembangkan program pengembangan hutan rakyat yang dilakukan secara padat karya, serta pemberian bantuan sapras alat ekonomi produktif.
Melalui penyerahan bibit produktif ini,diharapkan tercipta sinergitas pelaksanaan penanaman pohon, yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pengembangan rakyat, pemulihan ekonomi, menambah tutupan lahan untuk mencegah terjadinya banjir.
“Juga untuk meningkatkan kedasaran semua pihak untuk menanam dan memelihara pohon sebagai sikap atau bagian dari budaya masyarakat yang melekat pada kehidupan sehari-hari,”tutur Kadis.
Iapun menginformasikan, program ini digenjot bersama jajaran aparatur pengelolaan hutan atau KPH di daerah, dalam rangka mendukung visi-misi Gubernur Sulawesi Tengah.
Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan Balantak Yunus Papea, S.Sos.,M.A.P, mengatakan, saat ini KPH yang dipimpinnya memiliki 33 Kelompok Binaan, yang tersebar di 2 unit pengolahan hutan yaitu Unit 20 dan Unit 18.
Adapun aktivitas yang dikembangkan berupa pengolahan madu hutan, gula aren, getah pinus, kemiri, damar, dan penangkaran maleo.
