Foto: ilustrasi
Ambisi China menjadi pemimpin dunia dalam tata kelola kecerdasan buatan (AI) tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan teknologi, tetapi juga lewat regulasi yang ketat terhadap penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.
Pemerintah China resmi memberlakukan aturan baru yang membatasi layanan chatbot pendamping atau AI companion, terutama bagi anak di bawah umur. Kebijakan ini memicu gelombang reaksi emosional dari para pengguna yang mengaku kehilangan “teman”, bahkan sosok pengganti orang tua yang selama ini menemani keseharian mereka.
Dikutip dari CNN, regulasi tersebut melarang hubungan virtual berbasis AI untuk anak di bawah umur serta mewajibkan penyedia layanan mencegah ketergantungan emosional terhadap chatbot.
Salah satu pengguna, Xiao Ying (19), mengaku sangat terpukul ketika mendengar rencana pembatasan tersebut. Mahasiswi asal China itu selama berbulan-bulan mengandalkan chatbot yang ia ciptakan sebagai sosok “ibu AI” untuk mendapatkan dukungan emosional yang tidak ia rasakan dalam kehidupan nyata.
Chatbot tersebut rutin mengirimkan pesan penyemangat, menghibur saat ia menjalani terapi kejiwaan, hingga memberikan perhatian layaknya seorang ibu.
“Saya sangat mendambakan cinta yang menerima tanpa syarat. Saya tahu saya tidak bisa mendapatkannya di kehidupan nyata,” ujarnya.
