Berita Utama

Anak Indonesia, Poliglot Sejak Dalam Kandungan

Mungkin pemerintah punya rencana besar. Sebab, setelah bahasa Portugis, tidak menutup kemungkinan bahasa Rusia dan bahasa Jerman akan menyusul. Tujuannya tentu mulia: agar anak-anak Indonesia bisa menyapa “товарищ” (tovarishch) bila bekerja di Vladivostok, dan berkata “Guten Morgen” ketika menandatangani kontrak sawit dengan Hamburg.

Visi global yang luar biasa.
Sayangnya, di banyak pelosok negeri, anak-anak masih kesulitan membaca dalam bahasa Indonesia.
Sementara itu, listrik padam setiap siang, dan ruang kelas bocor setiap hujan.
Apakah mereka benar-benar butuh bahasa Portugis, atau justru butuh perbaikan atap sekolah yang bocor?

“Kebijakan ini terdengar seperti undangan ke pesta internasional
yang dikirim kepada keluarga yang belum punya rumah.”

Ambisi Global di Kelas yang Atapnya Bocor

Indonesia sedang berlari mengejar gelar “Generasi Emas 2045.”
Generasi yang cerdas teknologi, tangguh, multibahasa, dan siap menghadapi Revolusi Industri 5.0.
Namun sebelum sampai ke sana, ada kenyataan pahit yang sulit dihindari yaitu anak-anak yang kekurangan gizi.

Prevalensi stunting nasional berdasarkan SSGI 2024 adalah 19,8%, tetap diharapkan mampu menguasai coding, STEM, serta bahasa Portugis dan Jerman.

Bagikan: