Sekolah bukanlah arena perlombaan, melainkan taman belajar dan berimajinasi.
Namun hari ini, taman itu terasa gersang.
Anak-anak datang bukan untuk bermain, tapi untuk melengkapi daftar target nasional.
Guru pun tak lagi punya waktu mengajar dengan hati karena terlalu sibuk mengisi laporan dan mengikuti pelatihan daring yang kadang tak relevan.
Ketika kebijakan datang bertubi-tubi tanpa menyentuh akar persoalan, yang lahir adalah kelelahan.
Refleksi: Siapa yang Sebenarnya Belajar?
Mungkin, sebelum meminta anak-anak belajar bahasa Portugis, Rusia, dan Jerman, kita—orang dewasa—yang perlu belajar sesuatu: belajar jujur, belajar konsisten, belajar rendah hati terhadap kenyataan.
Pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak bahasa yang diajarkan, melainkan dari berapa banyak anak yang bisa tersenyum saat belajar.
Tidak perlu memaksa mereka jadi “warga dunia” sebelum mereka menjadi warga negaranya sendiri dengan layak.
Pertanyaan untuk Presiden
Pak Presiden, izinkan kami bertanya, serius tapi sopan:
Apakah benar masa depan bangsa harus ditopang pundak anak-anak yang bahkan belum cukup tinggi untuk melihat papan tulis?
Jika ya, mungkin kita bukan sedang menulis sejarah pendidikan—melainkan satire paling panjang dalam perjalanan republik ini.
