Berita Utama

Almarhum Murad Husain Raih Penghargaan Legacy Award dari KADIN Indonesia

Rupiah memang tidak serta-merta kembali kuat karena tindakan satu orang. Namun, di saat kepercayaan terhadap bangsa sedang runtuh, tindakan Murad menjadi simbol bahwa masih ada anak bangsa yang menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.

Semangat itu ternyata tidak berhenti pada urusan ekonomi.

Di Luwuk, nasionalisme Murad menjelma menjadi tanah yang ditimbun dan bangunan yang kemudian dimanfaatkan masyarakat.

Ketika kawasan yang kini menjadi Masjid Agung An-Nur Luwuk masih berupa rawa-rawa, pemerintah daerah belum memiliki kemampuan anggaran untuk melakukan penimbunan. Murad turun tangan.

Ia membantu menimbun kawasan tersebut, termasuk area di sekitar DPRD, SPBU, dan sejumlah pertokoan yang kini menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Sebagai imbalan, ia tidak menerima pembayaran tunai. Bentuk kompensasinya adalah tanah.

Namun bagi Murad, nilai terbesarnya bukan pada aset yang diperoleh, melainkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Apa yang dahulu berupa rawa kini menjadi kawasan yang hidup dan produktif. Ribuan orang beribadah, bekerja, dan beraktivitas di atas lahan yang pernah ia bantu bangun.

Bagikan: