Berita Utama

Almarhum Murad Husain Raih Penghargaan Legacy Award dari KADIN Indonesia

Di tengah perhatian media yang begitu besar, Murad Husain justru tidak menunjukkan perubahan sikap sedikit pun. Ia tidak menggelar konferensi pers, tidak mencari panggung, dan tidak pula berusaha memanfaatkan momentum itu untuk membangun citra diri. Sebaliknya, ia tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Setiap hari ia turun ke lapangan, memeriksa pekerjaan, dan mengawasi para karyawan di perkebunan kelapa sawitnya.

Sikap itu memperlihatkan watak yang selama ini melekat pada dirinya: bekerja lebih banyak daripada berbicara, memberi lebih banyak daripada menuntut pengakuan. Bagi Murad Husain, membantu negara yang sedang kesulitan bukanlah prestasi yang harus diumumkan, melainkan kewajiban moral yang dilakukan dengan tulus.

Putri lainnya, Sulianti Murad, dalam Podcast Ngopi bersama PWI Banggai mengenang bahwa saat itu ayahnya memang banyak memegang dolar hasil usaha kayu. Ketika krisis datang, dolar-dolar tersebut ditukarkan menjadi rupiah. Sebagian kemudian menjadi modal untuk mengembangkan usaha perkebunan kelapa sawit.

Rupiah memang tidak serta-merta kembali kuat karena tindakan satu orang. Namun, di saat kepercayaan terhadap bangsa sedang runtuh, tindakan Murad menjadi simbol bahwa masih ada anak bangsa yang menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.

Bagikan: