Sebagai sosok dengan ciri khas kesederhananya, nama DR (HC).H.Murad Husain terus dikenang. Ia diingat bukan karena jabatan dan kekuasaannya. Namun, Murad Husain dikenang karena sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih langka: rasa malu kepada bangsanya.
Murad Husain mungkin tidak terlalu akrab di telinga sebagian masyarakat Indonesia. Ia bukan tokoh yang gemar tampil di depan kamera. Ia adalah pengusaha dari Luwuk, Sulawesi Tengah, yang membangun usahanya dari kerja keras dan ketekunan.
Namun, pada salah satu masa paling kelam dalam sejarah ekonomi Indonesia, Murad Husain menunjukkan makna nasionalisme yang sesungguhnya.
Tahun 1998. Krisis moneter menghantam Indonesia tanpa ampun. Nilai rupiah jatuh bebas. Perusahaan-perusahaan berguguran. Harga kebutuhan pokok melambung. Kepercayaan terhadap masa depan bangsa berada di titik nadir.
Di tengah kepanikan itu, banyak pemilik modal memilih menyelamatkan kekayaannya dalam bentuk dolar Amerika Serikat. Dolar menjadi simbol keamanan, sementara rupiah dipandang sebagai mata uang yang sedang tenggelam.
Di saat sebagian orang berlomba menahan dolar, Murad Husain justru melakukan hal yang sebaliknya.
Keputusan itu berawal dari sebuah kabar yang menyentuh hatinya.
