BANGGAIPOST, LUWUK – Akses penerbangan langsung menuju Luwuk, Kabupaten Banggai, kembali mengalami kendala serius. Dua maskapai besar, Batik Air dan Indonesia AirAsia, dipastikan menghentikan rute baru yang belum genap dua bulan beroperasi sejak diresmikan pada Maret 2026.
Batik Air sebelumnya membuka rute langsung Jakarta (CGK)–Luwuk (LUW) pulang-pergi setiap hari mulai 14 Maret 2026. Pesawat berangkat dari Jakarta pukul 03.20 WIB dan tiba di Luwuk pukul 07.20 WITA. Rute ini sempat menjadi sorotan karena menghadirkan konektivitas langsung tanpa transit ke ibu kota.
Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun Banggai Post, penerbangan tersebut sudah tidak beroperasi sejak akhir Maret 2026 dan hanya bertahan kurang dari tiga minggu.
Sementara itu, Indonesia AirAsia membuka rute fly-thru Surabaya (SUB)–Makassar (UPG)–Luwuk sejak 7 Maret 2026. Rute ini menghubungkan Luwuk dengan Surabaya, Palu, dan Kendari melalui Makassar dengan tarif relatif terjangkau. Namun, maskapai ini juga akan menghentikan rute Makassar–Luwuk mulai 16 April 2026. Rute serupa ke Palu disebut turut dalam evaluasi.
Load Factor Rendah atau Kenaikan Harga Avtur?
Kenaikan harga avtur menjadi salah satu faktor yang mencuat. Per 1 April 2026, harga avtur domestik di Bandara Soekarno-Hatta naik hingga 72,45 persen, dari Rp13.656,51 per liter pada Maret menjadi Rp23.551,08 per liter pada April, sebagaimana dilaporkan Kompas.com dan CNN Indonesia. Kenaikan ini dipengaruhi dinamika geopolitik global dan berdampak langsung pada biaya operasional maskapai.
Plt Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banggai, Muksir Maeta, yang dikonfirmasi Banggai Post, Minggu (12/4), membenarkan rencana penutupan rute Indonesia AirAsia. Ia menyebutkan, salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga avtur.
Meski demikian, Muksir mengaku telah mengonfirmasi pihak maskapai yang menyebut penghentian tersebut bersifat sementara hingga kondisi perekonomian global membaik. Namun, belum ada kepastian kapan rute tersebut akan kembali dibuka.
Terpisah, Kepala UPBU Bandara Syukuran Aminuddin Amir, Nurul Anwar, juga membenarkan penutupan rute dari dua maskapai tersebut. Dalam keterangan tertulis, ia menyebut kenaikan harga avtur sebagai penyebab utama.
Namun demikian, alasan tersebut disoroti oleh pemerhati pariwisata dan transportasi di Luwuk. Ia menilai, tingkat keterisian penumpang (load factor) tetap menjadi faktor penentu utama keberlanjutan rute.
“Investasi maskapai masuk hanya sebagai seremoni semata. Tanpa ekosistem penumpang yang kuat dari hinterland, rute baru sulit bertahan lama,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya ketimpangan kebijakan rute. Di tengah kenaikan harga avtur, Palu justru mendapatkan tambahan frekuensi penerbangan.
Seperti diketahui, Indonesia AirAsia sempat menambah frekuensi penerbangan Makassar–Palu menjadi dua kali sehari pada Maret 2026, sebagaimana dilaporkan sejumlah media, termasuk RRI dan media lokal Sulawesi Tengah. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan, mengapa Luwuk—yang memiliki potensi pariwisata bahari di Kepulauan Banggai serta dukungan hinterland Kabupaten Banggai–Kabupaten Tojo Una-Una—justru kehilangan akses.
Pelajaran dari Kolaborasi Poso–Touna
Pemerhati tersebut mencontohkan keberhasilan kolaborasi antara Kabupaten Poso dan Kabupaten Tojo Una-Una bersama Sriwijaya Air. Rute Poso–Makassar yang dibuka pada September 2025 dinilai berhasil karena dukungan aktif pemerintah daerah, termasuk penguatan hinterland, paket wisata, dan perjalanan dinas.
“Pemkab Banggai seharusnya menciptakan ekosistem serupa dengan melibatkan Banggai Brothers, Touna, pelaku industri nikel dan perikanan, serta tour operator. Positioning Luwuk sebagai hub Sulawesi Timur bukan sekadar soal provinsi baru, tetapi peluang ekonomi yang nyata,” tambahnya.
Potensi Belum Dimaksimalkan
Kabupaten Banggai memiliki Bandara Syukuran Aminuddin Amir yang secara infrastruktur siap mendukung pertumbuhan trafik udara. Potensi pariwisata Pulau Banggai, sektor perikanan, serta basis penduduk di wilayah hinterland dinilai mampu mendorong tingkat keterisian penumpang hingga di atas 70–75 persen—ambang batas profitabilitas maskapai berbiaya rendah.
Namun, tanpa strategi terpadu antara pemerintah daerah, pelaku industri, dan operator penerbangan, potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi permintaan riil.
Meski telah ada konfirmasi dari pihak terkait, kejelasan langkah lanjutan masih dinantikan. Pemerintah daerah diharapkan segera menyiapkan strategi konkret untuk menjaga keberlanjutan konektivitas udara di Luwuk, agar kejadian serupa tidak terus berulang.
(*/Alin)












