Menurut Self-Perception Theory (Bem, 1972), individu membentuk identitas berdasarkan perilaku yang mereka amati pada diri sendiri. Ketika seseorang mengenakan pakaian lari yang stylish — seperti yang sering terlihat di komunitas lari urban Urban Runners di Surabaya — mereka mulai memandang diri sebagai pelari sejati. Proses ini terutama terjadi pada pelari pemula yang terinspirasi oleh tren di media sosial. Outfit yang mencerminkan identitas pelari memperkuat komitmen, mengubah kebiasaan berlari dari sekadar tren menjadi bagian dari gaya hidup.
Konteks Sosial dan Tren Lari di Indonesia
Fenomena pelari kalcer tidak terlepas dari pengaruh media sosial dan komunitas lari di Indonesia. Platform seperti Instagram, dengan akun-akun populer seperti @runners_id, menampilkan gaya pelari urban yang modis, mendorong pelari untuk berinvestasi pada outfit berkualitas. Acara lari massal seperti Borobudur Marathon juga menjadi ajang untuk menampilkan gaya sekaligus semangat berlari. Outfit yang tepat bukan hanya meningkatkan rasa percaya diri, tetapi juga mempererat ikatan sosial dalam komunitas — yang pada gilirannya memperkuat motivasi untuk terus berlari.
Dampak Psikologis dan Konsistensi
