Situasi ini menjadi peringatan serius. Dengan sumber daya dan anggaran besar, stagnasi bukan lagi soal keterbatasan, melainkan pilihan kebijakan.
“Banggai kini berada di persimpangan: tetap berjalan di pola lama dengan hasil minim, atau melakukan lompatan kebijakan untuk mengejar ketertinggalan. Waktu tidak banyak. Tanpa perubahan arah, angka triliunan hanya akan menjadi statistik—bukan kesejahteraan,” tutup Nadia. (*/Alin)
APBD Rp3 Triliun “Mubazir”? Banggai Terpuruk di Jurang Pertumbuhan Ekonomi, Tertinggal Jauh dari “Raja Nikel” Morowali Utara!
