Anwar–Hadianto 2030? Skenario “Dream Team” Mulai Dibicarakan


Dalam peta politik Sulawesi Tengah, keseimbangan geopolitik dan representasi sosial sering kali menjadi faktor penting dalam menentukan kemenangan. Kombinasi figur dari wilayah timur dan barat Sulawesi Tengah dinilai memiliki daya tarik elektoral yang lebih luas


BANGGAIPOST.COM, PALU – Pengunduran diri Hadianto Rasyid dari Partai Hanura tak hanya memunculkan spekulasi mengenai pelabuhan politik barunya. Lebih jauh, dinamika itu mulai melahirkan berbagai skenario baru menuju Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Tengah 2030.

Salah satu skenario yang kini mulai diperbincangkan di ruang-ruang diskusi politik adalah kemungkinan duet Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid dengan Wali Kota Palu Hadianto Rasyid.

Jika sebelumnya publik lebih banyak memprediksi keduanya akan berada pada kubu yang saling berhadapan, berkembang pula analisis bahwa Anwar dan Hadianto justru bisa menjadi pasangan yang saling melengkapi.

Dalam peta politik Sulawesi Tengah, keseimbangan geopolitik dan representasi sosial sering kali menjadi faktor penting dalam menentukan kemenangan. Kombinasi figur dari wilayah timur dan barat Sulawesi Tengah dinilai memiliki daya tarik elektoral yang lebih luas.

Anwar Hafid dikenal memiliki basis pengaruh kuat di wilayah timur Sulawesi Tengah. Pengalamannya sebagai mantan Bupati Morowali dua periode hingga kini menjabat Gubernur Sulawesi Tengah memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di kawasan tersebut.

Sementara itu, Hadianto Rasyid dianggap memiliki kekuatan signifikan di Kota Palu dan wilayah barat Sulawesi Tengah. Statusnya sebagai Wali Kota Palu dua periode menjadikannya figur dengan tingkat popularitas dan pengenalan publik yang tinggi.

Tak hanya faktor wilayah, duet ini juga dinilai memenuhi keseimbangan representasi etnis yang selama ini kerap menjadi pertimbangan dalam politik lokal. Anwar Hafid berasal dari latar belakang Bugis, sementara Hadianto Rasyid selama ini dipersepsikan merepresentasikan kelompok non-Kaili di wilayah perkotaan.

“Secara teori politik lokal, ini bisa disebut sebagai pasangan yang hampir memenuhi seluruh variabel kemenangan. Timur-Barat terwakili, figur petahana bertemu figur populer, ditambah potensi dukungan mesin partai besar,” ujar seorang pengamat politik di Luwuk (21/6/2026).

Skenario tersebut semakin menarik jika dikaitkan dengan isu kepindahan Hadianto ke Partai Gerindra pasca-mundur dari Hanura.

Apabila Hadianto benar-benar bergabung dengan Gerindra, maka terbuka peluang terbangunnya poros Demokrat-Gerindra. Demokrat saat ini merupakan kendaraan politik Anwar Hafid, sedangkan Gerindra memiliki struktur organisasi yang relatif solid di Sulawesi Tengah di bawah kepemimpinan Longki Djanggola.

Koalisi dua partai tersebut berpotensi menjadi kekuatan besar apabila mampu menjaga soliditas hingga mendekati Pilgub 2030.

Namun menurut pengamat, sejumlah tantangan tetap membayangi skenario tersebut.

Pertama, belum ada sinyal politik resmi dari Anwar Hafid maupun Hadianto Rasyid terkait kemungkinan berpasangan pada 2030. Bahkan arah politik Hadianto sendiri masih menjadi tanda tanya.

Kedua, politik bersifat dinamis. Kepentingan partai, hasil Pemilu 2029, hingga munculnya figur baru dapat mengubah konfigurasi yang ada saat ini.

Ketiga, duet dua tokoh besar juga membutuhkan harmonisasi hubungan politik yang tidak sederhana. Potensi rivalitas internal maupun tarik-menarik kepentingan elite partai tetap menjadi variabel yang harus diperhitungkan.

Meski demikian, berkembangnya wacana Anwar-Hadianto menunjukkan bahwa Pilgub Sulawesi Tengah 2030 mulai menjadi perbincangan serius jauh sebelum tahapan resmi dimulai.

Jika sebelumnya publik melihat keduanya sebagai calon pesaing, kini muncul kemungkinan lain: dua figur dengan basis kekuatan berbeda justru dipersatukan dalam satu tiket politik.

Apakah skenario itu akan benar-benar terwujud atau hanya menjadi bagian dari dinamika politik awal?

Waktu masih panjang. Namun satu hal yang mulai terbaca, pasca-mundurnya Hadianto dari Hanura, peta politik Sulawesi Tengah menuju 2030 tidak lagi sesederhana pertarungan antarpartai. Politik kini bergerak pada kemungkinan-kemungkinan baru, termasuk lahirnya sebuah “dream team” yang mungkin belum pernah dibayangkan sebelumnya.(RBP)

— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk