Berita Utama

‎Anggota Fraksi Gerindra Desak BPK Audit ASN Pengguna Fake GPS di Banggai

‎‎Herdi juga meminta pemerintah daerah tidak hanya berhenti pada pemblokiran akun atau teguran administratif, melainkan menindak tegas seluruh pelaku sesuai aturan kepegawaian yang berlaku.

‎“Kalau terbukti menerima tunjangan dengan cara memanipulasi kehadiran, tunjangan itu wajib dikembalikan. Jangan sampai ASN yang disiplin merasa diperlakukan tidak adil sementara pelanggar justru dibiarkan,” ujarnya.

‎Politisi Gerindra itu menegaskan bahwa digitalisasi absensi seharusnya menjadi instrumen meningkatkan disiplin ASN, bukan malah dimanfaatkan untuk mengakali sistem.

‎“Teknologi dibuat untuk memperkuat integritas birokrasi. Kalau justru dipakai untuk menipu sistem, itu sama saja merusak kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan publik,” katanya.

‎Herdi turut mendukung langkah mahasiswa dan masyarakat sipil yang terus mendorong transparansi dalam penanganan kasus tersebut. Ia berharap pengusutan dilakukan secara terbuka tanpa tebang pilih.

‎‎“Publik sekarang kritis. Jangan ada kesan kasus ini ditutup-tutupi. Siapa pun yang terlibat harus diproses, baik staf biasa maupun pejabat,” tandasnya.

‎Sebelumnya, dugaan manipulasi absensi digital ASN di Banggai menjadi sorotan setelah ratusan akun terdeteksi menggunakan mock location atau fake GPS pada sistem e-absensi. Kasus itu memicu gelombang kritik publik dan aksi mahasiswa yang mendesak agar persoalan tersebut diusut hingga tuntas.(Sri)

Bagikan: