Editorial banggaipost.com
Kisah seorang bocah berusia tiga tahun di Banggai Kepulauan yang jenazahnya disebut terpaksa dibawa menggunakan sepeda motor karena tidak diizinkan menggunakan ambulans Program Berani Sehat telah memantik kemarahan publik. Di Medsos, Warganet ramai-ramai mengutuk kejadian ini sekaligus berempati pada apa yang dialami keluarga korban. Bukan semata karena ada aturan yang mungkin membatasi penggunaan ambulans, melainkan karena peristiwa ini menyentuh sisi paling mendasar dari pelayanan publik: kemanusiaan.
Di negeri ini, masyarakat tidak pernah terlalu mempersoalkan regulasi selama mereka masih melihat adanya empati. Yang sulit diterima adalah ketika aturan terlihat lebih penting daripada rasa kemanusiaan.
Tentu, kita belum mengetahui secara utuh duduk persoalannya. Bisa saja memang ada ketentuan yang melarang ambulans digunakan untuk mengangkut jenazah. Bisa pula pengelola ambulans hanya menjalankan prosedur yang mereka pahami. Namun di mata masyarakat, yang terlihat adalah sebuah keluarga yang sedang berduka tidak mendapatkan bantuan kendaraan yang tersedia di desanya.
Inilah yang menjadi persoalan sesungguhnya.
Program Berani Sehat lahir dengan semangat mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Program ini mendapat apresiasi luas karena membantu banyak warga yang selama ini kesulitan mengakses layanan medis. Karena itu, ketika muncul kasus seperti ini, yang dipertaruhkan bukan hanya keputusan seorang petugas, tetapi juga kepercayaan publik terhadap program tersebut.
Pemerintah tidak boleh alergi terhadap kritik. Sebaliknya, kritik harus dipandang sebagai alarm untuk melakukan evaluasi. Jika memang ada oknum yang salah memahami aturan, maka perlu diberikan pembinaan. Jika aturannya terlalu kaku, maka perlu ditinjau kembali. Sebab tujuan akhir dari setiap program publik bukanlah kepatuhan terhadap prosedur semata, melainkan pelayanan kepada manusia.
Yang juga perlu diingat, masyarakat tidak sedang menuntut fasilitas mewah. Mereka hanya berharap ketika musibah datang, negara dan pemerintah hadir dalam bentuk yang paling sederhana: membantu.
Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk memperjelas standar operasional penggunaan ambulans desa atau ambulans program pemerintah. Jangan sampai setiap daerah menerapkan tafsir yang berbeda-beda sehingga menimbulkan kebingungan dan rasa ketidakadilan di tengah masyarakat.
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah program bukan hanya berapa banyak kendaraan yang dibeli atau berapa besar anggaran yang digelontorkan. Ukurannya adalah apakah masyarakat merasa terbantu ketika mereka paling membutuhkan pertolongan.
Bagi keluarga yang sedang berduka, ambulans bukan sekadar kendaraan. Ia adalah simbol kehadiran negara di saat-saat paling sulit dalam kehidupan warganya.(*)












