Sebuah Refleksi tentang Tubuh, Kekuasaan, dan Kemanusiaan
Oleh Novita Sari Yahya
Saya menulis puisi tentang cinta dan pengkhianatan untuk lomba yang diikuti peserta dari Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Judulnya sederhana, tapi isinya tidak tertib pada kesopanan kata-kata. Puisi-puisi saya sebelumnya seperti Anjing-Anjing Imperialisme dan Melacurkan Diri pada Kekuasaan sudah cukup membuat juri berpikir dua kali untuk meliriknya. Maka, jika kali ini bisa masuk 200 besar saja, itu sudah prestasi besar, setidaknya masih ada ruang kecil untuk suara yang tidak patuh.
Kali ini saya menulis tentang Mata Hari, perempuan yang menjadi simbol bagaimana kecantikan sering disalahartikan sebagai ancaman. Rocky Gerung pernah mengatakan, “Perempuan indah secara fiksi, tapi berbahaya secara fakta.” Mungkin ia benar. Tapi bahayanya bukan karena perempuan itu sendiri, melainkan karena dunia yang tidak pernah bisa menerima perempuan yang berpikir dan bertindak di luar naskah yang sudah ditentukan untuknya.
Perempuan dan Ketakutan Kekuasaan
Sejarah Indonesia penuh dengan kisah di mana tubuh dan nama perempuan dijadikan alat, senjata, atau kambing hitam. Laporan International People’s Tribunal (IPT) 1965 menyebutkan adanya penyiksaan dan kekerasan seksual terhadap perempuan yang dituduh anggota atau simpatisan PKI dan Gerwani. Mereka tidak diadili, hanya dihakimi. Nama mereka dikubur bersama stigma yang diciptakan negara.
Marsinah, seorang buruh perempuan yang dibunuh dengan keji pada 1993 karena memperjuangkan hak buruh pabrik. Kasusnya menjadi simbol betapa nyawa perempuan bisa dihilangkan oleh rezim yang tidak tahan pada kejujuran dan keberanian perempuan.
Sejak Orde Baru, negara berusaha mendefinisikan perempuan “ideal” melalui ideologi ibuisme negara. Julia Suryakusuma menjelaskan bagaimana perempuan dijinakkan dalam peran istri dan ibu demi stabilitas sosial dan politik. Dengan ibuisme negara , perempuan diarahkan untuk tunduk, bukan berpikir. Sementara itu, kekerasan terhadap perempuan yang dituduh PKI di kamp Plantungan dan kamp-kamp perempuan lainnya disembunyikan di balik narasi pengkianatan pada negara.
Ironinya, di masa Jepang pun tubuh perempuan dipertukarkan. Dalam autobiografi yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengakui bahwa ia ikut memfasilitasi pengalihan “budak seks” tentara Jepang. Lalu pada masa agresi militer, perempuan pelacur diminta menjadi mata-mata demi perjuangan kemerdekaan. Di mana batas antara pengorbanan dan eksploitasi?
Perempuan dalam sejarah Indonesia tidak pernah diberi ruang sebagai subjek. Mereka dijadikan lambang, hiasan, atau korban. Dihormati sebagai ibu bangsa di atas panggung, tapi dibungkam dengan pengendalian melalui Ibuisme Negara.
Ketakutan terhadap perempuan sering kali bersumber dari ketidakmampuan laki-laki mengendalikan nafsu dan egonya sendiri. Tubuh perempuan dijadikan simbol dosa agar patriarki bisa terus merasa suci.
Saya percaya, kesetiaan seorang laki-laki terhadap satu perempuan mencerminkan kesetiaannya terhadap rakyatnya. Bung Hatta, Sutan Syahrir, H. Agus Salim, Mohammad Natsir, dan Gus Dur membuktikan bahwa integritas pribadi berjalan seiring dengan moral publik. Menunjukkan bahwa kekuasaan tidak harus disertai penaklukan atas tubuh perempuan.
Persahabatan, Idealisme, dan Luka yang Sama
Suara Tan Malaka pernah menggetarkan hati bangsa ini:
> “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”
Revolusioner itu gugur di tangan bangsanya sendiri. Seperti banyak idealis lainnya, ia tidak mati oleh musuh, tapi oleh ketakutan sesama anak negeri.
Persahabatan dan permusuhan ternyata hanya dipisahkan garis tipis—terutama ketika politik kekuasaan sedang merajalela.
Adakah yang menangis saat sahabatnya mati, meski dia tahu akhir tragis itu?
Pertanyaan itu mengingatkan pada Fidel Castro dan Che Guevara—dua sahabat revolusi yang dipisahkan oleh jalan dan nasib. Kebetulan atau pengkhianatan? Dunia politik jarang memberi ruang bagi kesetiaan murni; ambisi dan ketamakan selalu menemukan cara untuk mengkhianati idealisme.
Perbedaan idealisme memisahkan kau dan aku.
Akankah cintamu memilih diriku, idealismemu, atau kepentingan dan ambisi?
Apakah persahabatan dan cinta berarti lebih dari pertarungan politik dan kekuasaan?
Atau urusan perutmu yang lapar lebih dipilih dari kesetiaan?
“Mengapa kau korbankan dirimu demi menyelamatkanku?” ucap Mata Hari pada kekasih gelapnya.
Apakah karena cinta, atau persahabatan yang tulus?
Pengorbanan kekasih pada yang dicintai.
Ketika hati berbicara, sahabat sejati adalah kekasih tercinta.
Bogor, 5 September 2025
Penutup: Puisi Sebagai Perlawanan Halus
Puisi bagi saya bukan sekadar karya sastra. Puisi adalah bentuk perlawanan terhadap objektifikasi perempuan, kekerasan atas nama ideologi, dan pengkhianatan terhadap kemanusiaan.
Menulis puisi berarti menulis ulang sejarah yang terlalu lama diceritakan dari sudut pandang patriarki dan kekuasaan.
Jika menulis puisi membuat saya “berbahaya secara fakta”, mungkin itu pertanda baik. Karena bangsa yang masih bisa tersinggung oleh puisi berarti belum sepenuhnya mati rasa.(*)
Tentang Penulis
Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku:
1. Romansa Cinta
2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
3. Novita & Kebangsaan
4. Makna di Setiap Rasa – antologi 100 puisi bersertifikat lomba nasional dan internasional
5. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
📞 Kontak: 089520018812
📸 Instagram: @novitasari.yahya
Referensi
1. Julia Suryakusuma, Ibuisme Negara: Konstruksi Sosial Perempuan Orde Baru, Jakarta: Komunitas Bambu, 2011.
2. International People’s Tribunal 1965 (IPT 65), Den Haag, 2015.
3. Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Jakarta: Gunung Agung, 1966.
4. Tempo Magazine, Marsinah: Perempuan yang Dibungkam Negara, Edisi Khusus, 1994.
5. Saskia Wieringa, Penghancuran Gerwani: Seksualitas dan Kekuasaan di Indonesia, Yogyakarta: Galang Press, 2010.
6. Soe Tjen Marching, The End of Silence: Accounts of the 1965 Genocide in Indonesia, Amsterdam University Press, 2017.
7. Benedict Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, Verso, 2006.
8. Tan Malaka, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), Jakarta: Narasi, 2014.
9. Ernesto “Che” Guevara, The Motorcycle Diaries, Verso, 2004.












