banner 728x250

Malabot Tumbe, Bupati Sofyan: Masyarakat Banggai, Bangkep dan Banggai Laut Sejatinya Bersaudara

BANGGAI POST, BALUT– Upacara adat Malabot Tumbe terus dilestarikan tiga kabupaten Banggai bersaudara. Kegiatan yang setiap tahun dilaksanakan itu sarat akan nilai-nilai budaya dan juga tauladan dalam menjaga amanah leluhurnya. Hal itu diungkapkan Bupati Banggai Laut Sofyan Kaepa, Sabtu (4/12). Pada saat penjemputan telur maleo di keraton kerajaan Banggai.
“Tradisi malabot tumbe adalah upacara adat yang sakral yang didalamnya banyak mengandung pesan dan kearifan untuk diteladani,” jelas Bupati Sofyan.

Tumbe atau tumpe merupakan suatu yang pertama dan awal, dan malabot tumbe telah menjadi istilah dalam adat Banggai sebagai prosesi penerimaan telur burung maleo dari masyarakat adat batui kepada tomundo Banggai keluarga di Banggai.
“Ini telah dilaksanakan secara turun-temurun dalam kehidupan adat lokal Batui dan Banggai,” ujarnya.

Hal ini menandakan bahwa Batui dan Banggai adalah Saudara. Malabot Tumbe diartikan secara sederhana sebagai titipan pesan keluarga yang mengandung ketauladanan yang sangat tinggi untuk generasi yang ada di Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.

“Masyarakat yang ada di tiga kabupaten ini sejatinya bersaudara, walaupun berpisah secara administrasi pemerintahan,” tutur Bupati Sofyan yang juga keturunan dari Basalo Sangkap.

Untuk itu, kata Bupati, manuk mamua atau burung maleo dan alam pendukungnya haruslah dipelihara dan dijaga agar terus berkembang biak dan dilestarikan sepanjang masa.

“Begitupula hubungan kekeluargaan antara masyarakat yang ada di tiga Kabupaten Banggai bersaudara,” tandasnya.

Bupati Sofyan mengakui Pemerintah Daerah terus berusaha senantiasa memfasilitasi semua kegiatan tradisi adat yang ada salah satunya yakni malabot tumbe.
“Alhamdulillah festival malabot tumbe masuk sebagai sebagai evant nasional adat budaya di Indonesia,” pungkasnya. (IK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *