Kepada Anak Muda, Harapan Itu Diletakkan

Oleh : Dandy Adhi Prabowo


JANGAN Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, Presiden RI Pertama Soekarno. Ucapan Bung Karno tersebut masih sangat relevan hingga saat ini, Sejarah memang selalu berulang, sejarah selalu menemukan cara menyesuaikan dengan keadaan kekinian. Sejarah panjang bangsa ini mencatat dengan sangat monumental, gerakan anak muda untuk memperjuangkan kemerdekaan adalah tonggak penting dari merdekanya Republik. Sederetan anak muda ambil bagian dalam proses panjang merebut kemerdekaan Republik. Mereka adalah generasi brilliant bangsa yang berani ambil bagian penting dalam sebuah proses akhir mencapai tujuan perjuangan yaitu kemerdekaan yang hakiki “Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Pada merekalah harapan itu diletakkan, pada merekalah seluruh jerih payah perjuangan di finalisasi menjadi kado terindah bangsa, yaitu kata MERDEKA.

Anak Muda adalah entitas penting dari sebuah harapan perubahan, sebab tidak bisa di nafikan bahwa merekalah generasi baru yang menawarkan gagasan-gagasan segar dengan ciri khasnya, yang menyesuaikan dengan kebutuhan generasinya. Mereka adalah generasi baru yang bercirikan inovatif, kreatif, visioner, pantang menyerahdan mereka punya beragam cara untuk menyelesaikan segala problematika yang dihadapi generasinya. Anak muda mempunyai energi lebih untuk bergerak dan menggerakan, mereka bisa di percaya untuk menjadi penggerak sekaligus pemasok solusi paling cepat, kelebihan anak muda adalah mereka yang bergerak cepat melampaui kebiasaan. Mereka adalah generasi multitasking yang bisa mengerjakan dua atau lebih pekerjaan disaat yang bersamaan. Mereka menawarkan masa depan namun tetap melihat masa lalu sebagai cermin untuk menentukan arah gerak dan daya juang mereka masih pada rel yang seharusnya dan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020) yang dirilis BPS RI mencatat mayoritas penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi Z yang lahir pada tahun 1997 – 2012 dan Generasi Milenial yang lahir pada tahun 1981 – 1996. Proporsi Generasi Z sebanyak 27,94 persen dari total populasi dan Generasi Milenial sebanyak 25,87 persen. Kedua generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Persentase penduduk usia produktif (15–64 tahun) terhadap total populasi pada tahun 2020 sebesar 70,72 persen. Sedangkan persentase penduduk usia nonproduktif (0–14 tahun dan 65 tahun ke atas) sebesar 29,28% di 2020. Persentase penduduk usia produktif sebesar itumenunjukkan bahwa Indonesia masih berada pada era bonus demografi.

Baca Juga :  Kejari Banggai Ekspos Capaian Kinerja Tahun 2022

Era bonus demografi ini menjadi acuan penting untuk memberikan seluas-luasnya akses dan kesempatan yang sama bagi seluruh anak muda, baik di wilayah politik, ekonomi dan sosial kebudayaan. Sudah banyak tulisan-tulisan serius mengenai bonus demografi, tugas anak muda tinggal bagaimana memaksimalkan bonus demografi benar-benar menjadi “bonus bukan bencana”. Disini tugas anak muda diuji, untuk memastikan bahwa pemerataan pembangunan menyasar langsung kebutuhan anak muda. Anak muda harus sudah memulai dan mempersiapkan diri menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan bangsanya. Risiko dan harapan besar ini patut mereka pikul sebagai terjemahan sejarah awal berdirinya Republik ini bahwa gerak anak muda yang menjadi cikal bakal bangsa ini dapat Merdeka dari penjajahan panjang.

 

ANAK MUDA DAN POLITIK

Seandainya kita menilisik lebih jauh tentang fakta-fakta Bonus Demografi, tercatat dan terpampang dengan jelas dihadapan kita, anak muda yang telah diberikan kepercayaan oleh publik menjadi pemimpin di masing-masing ladang pengabdian, kita dapat menyaksikan beberapa dari mereka yang telah diberikan amanah masyarakat diladang pengabdian politik. Politik menjadi salah satu sarana pengabdian yang juga relevan untuk diisi oleh anak muda, walaupun demikian tak bisa dipungkiri jalan pengabdian politik bagi anak muda kekinian masih disesaki dengan debat kusir yang tak tentu arah oleh para politisi “senior” yang membuat kesan tidak baik, yang berkonsekuensi terhadap pandangan anak muda tentang politik cenderung “negatif”, namun kondisi demikian bukan menjadi alasan untuk para kaum muda apatis dengan keadaan. Tapi harus mengambil peran secara serius dan bergerak serentak secara bersama-sama merubah keadaan menjadi lebih baik.

Baca Juga :  Muscab HIPMI Banggai Ke III Resmi Di Gelar

Peran anak muda dalam ladang pengabdian politik dewasa ini masih sangat dibutuhkan, secara kalkulasi, banyaknya anak muda yang terlibat langsung dalam wilayah politik diharapkan mampu menjadi angin segar untuk narasi perubahan dan perbaikan bangsa maupun daerah. Ditangan mereka cita-cita perubahan itu bisa diharapkan mewujud menjadi nyata. Semangat yang masih membara menjadi bagian penting untuk menterjemahkan seluruh aksi nyata berbuat lebih baik bagi kemajuan. Visi segar yang ditawarkan kaum muda pasti identik dengan pembaharuan-pembaharuan untuk mencipta solusi dari problematika yang dihadapi masyarakat umum. Untuk menjadi nyata setiap solusi, maka jalan pengabdian politik menjadi instrument paling masuk akal untuk menjadikan setiap kebijakan yang dibuat berdampak langsung kepada warga.

Khulafaur Rasyidin Ali bin Abi Thalib pernah berujar, “Laisal fata man ya kulu kana abi, Wala kinnal fata man ya kulu haa ana dza.” Yang artinya Bukanlah pemuda seseorang yang selalu bilang ini bapakku. Seorang pemuda adalah yang bisa berkata, inilah aku. Dari ucapan tersebut kita dapat mengambil sebuah kesimpulan sederhana bahwa anak muda sejatinya mereka yang tidak berdiam diri dan berpangku tangan melihat kondisi terkini, namun adalah mereka yang berinisiatif menjadikan keadaan yang belum baik menjadi lebih baik dengan kerja dan gerak yang tidak pernah lelah, untuk selalu membuktikan mereka adalah anak muda yang progresif revolusioner, yang dapat melihat masalah secara utuh dan mencipta solusi secara cepat. Sehingga treatment penyelesainnya terukur, tepat sasaran dan tepat waktu.

Baca Juga :  Gubernur Sulteng: Muktamar Alkhairaat Diharap Jadi Ajang Islah

 

HARAPAN PERUBAHAN KEPIMPINAN ANAK MUDA

Sangat tidak berlebihan jikalau kepemimpinan anak muda diklaim dapat membawa angin segar harapan perubahan, faktor-faktor pendukung seperti narasi diatas menegaskan fakta-fakta empiris harapan perubahan tersebut. Kepemimpinan selalu identik dengan kebaruan, dan yang paling bisa melakukan kebaruan adalah mereka yang tidak terjebak dengan romantisme masa lalu, yang tidak tersandera dengan aktivitas masa lalu, tapi adalah mereka yang selalu maju berjuang tanpa tersandera janji-janji masa lalu.

Kepimpinan anak muda adalah cita besar bersama, cita para generasi masa depan juncto cita generasi masa lalu. Idealnya kepimpinan anak muda berpegang teguh pada pengabdian tanpa batas waktu dan tempat. Pengabdian yang terus menerus tak pernah putus dan tak mengenal rasa lelah. Energi besar anak muda harus menemukan wadah terbaiknya. Sebab energi besar anak muda jikalau tidak dikelola baik bisa menjadi energi yang sia-sia serta dapat menjadi bumerang bagi kestabilan sebuah bangsa dan daerah. Saatnya memberikan wadah pengabdian kepada generasi muda untuk dapat mengaktualisasi setiap potensi sumberdaya yang dimiliki menjadi kebaikan bagi sesama. Oleh karena itu anak muda harus mengambil peran serius untuk memaksimalkan pengabdiannya dalam setiap wadah yang dipilihnya secara bebas dan merdeka.

“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.” ― Pramoedya Ananta Toer ―