BANGGAIPOST, LUWUK – Keluhan masyarakat terhadap buruknya layanan PDAM Kabupaten Banggai kian memanas. Di tengah krisis air bersih yang belum juga menemukan solusi, warga kini mengungkap dugaan adanya praktik permainan jaringan distribusi air yang melibatkan oknum di internal PDAM.
Dugaan tersebut mencuat melalui unggahan seorang warga bernama M. Nafis di media sosial Facebook. Dalam keterangannya, Nafis menilai persoalan PDAM bukan sekadar masalah teknis, melainkan telah mengarah pada praktik tidak sehat yang merugikan masyarakat.
Menurut Nafis, pergantian pimpinan PDAM sejauh ini belum membawa perubahan berarti.
“PDAM memang sudah ganti pimpinan, tapi kalau orang-orang di bawahnya masih terbiasa maling, ya tetap maling,” tulisnya.
Ia mengungkap, warga pernah mempertanyakan mengapa aliran air di jalur mereka selalu lemah, sementara jalur lain justru mengalir deras. Namun jawaban yang diterima dinilai tidak masuk akal.
“Katanya jalur pipanya berbeda. Tapi anehnya, kondisi jalur bisa berubah-ubah,” ungkap Nafis.
Masalah tak berhenti di situ. Nafis menyebut warga sempat ditawari pindah ke jalur distribusi yang airnya lebih kencang, dengan syarat membayar biaya pemindahan.
“Kalau mau pindah jalur, harus bayar. Dulu sekitar Rp3,5 juta,” tulisnya.
Demi mendapatkan air yang lancar, sejumlah warga akhirnya patungan membayar biaya tersebut. Namun, harapan itu hanya bertahan sementara.
“Setelah kami pindah, jalur lama yang tadinya macet tiba-tiba kembali kencang. Ini berulang. Seolah-olah jalur pipa sengaja dipindah-pindahkan,” tegas Nafis.
Ia menduga praktik tersebut merupakan cara licik oknum lapangan untuk memanfaatkan penderitaan masyarakat.
Nafis juga menyoroti layanan air tangki PDAM yang kini disebut dijual kepada warga dengan harga mencapai Rp250 ribu per kubik, di saat krisis air belum teratasi.
“Sekarang mereka manfaatkan mobil tangki. Air dijual mahal ke warga yang terpaksa butuh,” lanjutnya.
Warga pun mendesak pembenahan total di tubuh PDAM Kabupaten Banggai, termasuk evaluasi dan penindakan tegas terhadap oknum yang diduga bermain, serta perbaikan menyeluruh tata kelola distribusi air. “Pecat karyawan yang tidak berkompeten dan benahi sistemnya. Air bersih itu hak dasar masyarakat, bukan ladang permainan,” tutup Nafis.
PLT Direktur PDAM Bantah Ada Permainan
Sementara itu, PLT Direktur PDAM Banggai, Damri Dayanun, saat dikonfirmasi membantah adanya permainan jaringan seperti yang ditudingkan warga. Meski demikian, ia mengaku akan menelusuri jika ada bawahannya yang terbukti melakukan pelanggaran.
“Kalau bapak ada informasi lengkap dengan nama pegawai PDAM, kasih sama saya supaya saya ambil langkah penyelesaian dan sanksi yang cocok kalau terbukti,” ungkapnya, Minggu (8/2).
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya hanya menyiapkan biaya pemasangan sekitar Rp200 ribu, bukan Rp3,5 juta seperti yang disebutkan.
Terkait layanan air tangki, Damri menyebut tidak ada pungutan kepada warga karena pelayanan tersebut merupakan keputusan bersama DPRD.
“Justru PDAM yang bayar mobil tangki 300 ribu satu ret air. Jangan jadi fitnah ini barang pak,” tegasnya.
Terlepas dari polemik tersebut, Damri juga menjelaskan bahwa pihaknya saat ini masih menelusuri sumber air Keles yang disebut mengalami penurunan debit.
“Saya evaluasi dulu sumber dan jaringannya supaya bisa terukur memastikan kepastian mengalir,” pungkasnya.(Alin)












