Lorong-lorong sempit di kamp pengungsian membuat pasien yang terinfeksi sulit dipantau. Upaya pelacakan kontak juga menjadi sangat rumit karena banyak penghuni kamp berpindah-pindah untuk mencari keamanan maupun kebutuhan hidup.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebelumnya mengungkapkan bahwa lebih dari 80 persen kasus Ebola baru di wilayah timur Kongo ditemukan di luar daftar kontak yang telah diketahui. Temuan tersebut menunjukkan masih banyak rantai penularan yang belum berhasil diidentifikasi.
Sebagian besar infeksi baru terjadi di komunitas yang memiliki akses sangat terbatas terhadap fasilitas kesehatan, termasuk kamp-kamp pengungsian.
Situasi diperburuk oleh aksi mogok tenaga kesehatan akibat gaji yang belum dibayarkan, serangan terhadap pusat-pusat perawatan Ebola, serta mobilitas tinggi para pengungsi.
Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo, hingga pekan ini tercatat 2.423 kasus Ebola yang telah dikonfirmasi dengan 967 kematian terkonfirmasi. Namun WHO memperkirakan jumlah sebenarnya bisa mencapai dua hingga empat kali lebih tinggi karena keterbatasan pelaporan.
