Fenomena ini menunjukkan polemik Pasar Simpong kini telah berkembang menjadi ruang diskusi publik yang lebih luas. Jika sebelumnya perdebatan berpusat pada portal parkir elektronik, kini perhatian masyarakat bergeser pada kondisi jalan, drainase, hingga kualitas infrastruktur penunjang pasar.
Guyonan tentang “piara ikan mas”, “tebar bibit lele”, “Kolam Mirqueen”, hingga “bikin rakit penyeberangan” memang mengundang tawa. Namun di balik humor itu, tersimpan pesan yang cukup jelas: masyarakat berharap Pasar Simpong tidak hanya modern karena memiliki portal parkir, tetapi juga nyaman dilalui, bebas genangan, dan didukung infrastruktur yang benar-benar layak bagi pedagang maupun pengunjung.(Alin)
