“Alam hancur, karang mati, hutan gundul, jalan berdebu dan berlumpur. Belajar dari Morowali,” tulis akun Enllsalim.
Komentar tersebut mendapat respons dari sejumlah pengguna lain yang juga membandingkan kondisi Siuna dengan daerah-daerah tambang yang lebih dulu berkembang.
Akun Ruslan Manggarai menyoroti kondisi kawasan pegunungan dan pesisir yang dinilai mulai mengalami tekanan akibat aktivitas pertambangan.
“Siuna gunung digundul, di laut hutan bakau juga dibabat, tapi pemerintah daerah diam seperti tidak ada tindakan. Miris,” tulisnya.
Sementara itu, Fatma Fatma menyoroti kondisi wilayah pesisir dengan komentar singkat, “Lautnya juga sudah tercemari.”
Kekhawatiran terbesar yang muncul dalam percakapan publik adalah potensi terjadinya bencana alam apabila kerusakan lingkungan terus meluas.
“Hanya tinggal menunggu bencana datang,” tulis Ronald Makarisang.
“Tinggal menunggu bencana alam,” komentar Bunga Aprilia Azahra.
“Kalau terjadi bencana alam siapa yang akan bertanggung jawab? Alam sudah rusak,” tulis Nengah Merta.
Komentar bernada serupa juga disampaikan Fhaiz Musa.
“Ini seperti bom waktu yang cepat atau lambat akan meledak.”
Sedangkan akun Omi Lam Akase menulis peringatan singkat yang menarik perhatian pengguna lain.
“Cepat atau lambat akan tinggal kepala burung.”
