Saya pernah coba live TikTok untuk promosi buku. Harapannya literasi naik dan buku terjual. Hasilnya tenggelam di lautan joged dan lelucon receh.
Baru sekali mencoba, izin TikTok malah dibekukan. Rasanya seperti baru belajar berenang, kolamnya ditutup. Sementara seleb TikTok sudah cuan dan viral.
Realitas hari ini: viral lebih berharga dari isi kepala. Joged memang hiburan sesaat. Tapi buku dan pengetahuanlah yang bisa menuntun bangsa.
Jika literasi tenggelam, kita hanya jadi penonton abadi. Joged bisa bikin senyum, tapi buku memberi arah. Pertanyaannya: mau sampai kapan kita hanya menatap layar?
Novita Sari Yahya
Penulis & Peneliti
IG: @novita.kebangsaan
