BANGGAIPOST LUKTIM – Puskesmas Hunduhon, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, menghadirkan terobosan pelayanan kesehatan jiwa melalui inovasi Teman Sejiwa (Temukan Penderita Gangguan Jiwa). Program ini mengedepankan pendekatan jemput bola dengan mengintegrasikan skrining aktif, pendampingan keluarga, pemanfaatan teknologi digital berbasis Google Earth, serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat penanganan kesehatan jiwa di masyarakat.
Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap masih rendahnya kesadaran masyarakat serta minimnya keterlibatan keluarga dalam proses pemulihan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Melalui Teman Sejiwa, pelayanan kesehatan jiwa tidak lagi berfokus pada pasien semata, melainkan melibatkan keluarga dan lingkungan sosial sebagai bagian penting dari proses penyembuhan.
Inovator Teman Sejiwa, Dewi Purnamasari, menjelaskan bahwa program tersebut dimulai dengan deteksi dini melalui penyebaran kuesioner skrining kesehatan jiwa kepada masyarakat. Langkah ini bertujuan menemukan gejala gangguan mental sedini mungkin sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
“Jika ditemukan indikasi gangguan kejiwaan, petugas akan melakukan pendampingan secara berkelanjutan, mulai dari proses pemeriksaan, rujukan ke dokter spesialis, hingga memastikan pasien memperoleh dan mengonsumsi obat secara teratur,” jelasnya.
Keunggulan Teman Sejiwa terletak pada pendekatan proaktif yang menjangkau masyarakat secara langsung. Petugas tidak menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, melainkan aktif melakukan penelusuran, pemantauan, dan pendampingan hingga proses pemulihan berjalan optimal.
Program ini juga diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Kantor Urusan Agama (KUA), Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga berbagai unsur kemasyarakatan lainnya. Sinergi tersebut dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan pasien sekaligus mengurangi stigma terhadap gangguan kesehatan jiwa.
Tak hanya itu, Teman Sejiwa turut memanfaatkan teknologi Google Earth untuk memetakan persebaran pasien, menganalisis akses layanan kesehatan, serta mendukung pengambilan kebijakan berbasis data dalam upaya pencegahan dan penanganan masalah kesehatan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Hunduhon.
Sebagai bentuk penguatan deteksi dini, skrining kesehatan jiwa kini juga menjadi salah satu syarat penerbitan Surat Keterangan Berbadan Sehat (SKBS) bagi calon pelamar kerja.
Manfaat program ini telah dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satunya Ny. M (27), yang mengaku kehidupannya berubah setelah mendapatkan pendampingan dari Tim Teman Sejiwa.
“Sebelumnya saya takut makan, takut keluar rumah, gelisah dan tidak bisa tidur. Setelah mengikuti skrining kesehatan jiwa dan mendapatkan pendampingan hingga ke dokter spesialis, sekarang saya bisa makan dengan normal, tidur nyenyak, dan kembali menjalankan aktivitas sehari-hari,” ungkapnya.
Testimoni serupa disampaikan Nn. E (18) yang menceritakan perubahan kondisi ibunya setelah rutin mendapatkan pelayanan dan pengobatan melalui program tersebut.
“Dulu mama sering marah-marah dan mengamuk sampai merusak barang-barang di rumah. Setelah didampingi petugas dan rutin minum obat, sekarang mama sudah kembali beraktivitas seperti biasa, bisa memasak, mengurus rumah, dan jarang marah lagi,” tuturnya.
Melalui Teman Sejiwa, Puskesmas Hunduhon membuktikan bahwa pelayanan kesehatan jiwa yang inovatif, responsif, dan berbasis masyarakat mampu memberikan harapan baru bagi pasien dan keluarganya. Program ini diharapkan menjadi model pelayanan kesehatan jiwa yang dapat terus dikembangkan demi mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, dan bebas stigma.(alin)












