Oleh: Herdiyanto Yusuf
Wartawan dan Pemerhati Politik, Tinggal di Luwuk
Di Indonesia, petahana yang berhasil “men-deliver” bantuan langsung (beasiswa, kesehatan gratis, BLT dll.) cenderung punya keunggulan elektoral karena menciptakan ikatan emosional/transaksional dengan pemilih
Sekali lagi, ini masih terlalu pagi. Pilgub (mungkin) baru akan digelar tiga atau empat tahun mendatang. Membicarakannya sekarang, apalagi di tengah rupiah yang terus limbung, rasa-rasanya seperti membayangkan makan enak tapi lagi kebelet ingin ke toilet.
Tapi politik tidak pernah benar-benar tidur. Dalam dunia politik, lima tahun bagi yang tengah berkuasa relatif sangat pendek. Mesin kekuasaan bekerja setiap hari, bahkan sejak sehari setelah pelantikan.
Dan hari ini, harus diakui, Anwar Hafid sedang menikmati satu keuntungan paling mahal dalam politik elektoral. Dia incumbent (petahana) dengan sejumlah program yang sulit untuk mengatakan tidak terasa manfaatnya oleh sebagian masyarakat.
Di Sulawesi Tengah, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa petahana yang berhasil membuat rakyat “merasakan manfaat” akan sangat sulit ditumbangkan. Bukan karena baliho lebih banyak. Bukan karena pidato lebih keras. Tetapi karena masyarakat merasa ada sesuatu yang berubah dalam hidup mereka, sekecil apa pun itu.
Anwar (yang berhasil menang dua periode di Morowali) tampaknya memahami betul rumus tersebut.

