Tak lama kemudian, ada pasukan Inggris yang akan mendarat di Surabaya. Dengan segera, Kiai Amin menggelar rapat dengan Kiai Abbas Jamil Buntet, Kiai Anshory Plered, Kiai Fathoni, dan beberapa kiai lain. Lahirlah kesepakatan bahwa pesantren harus menjadi bagian dalam perjuangan kemerdekaan.
Menghadang NICA dengan 6.000 pasukan brigade, Kiai Amin turut serta di barisan depan. Hal itu berdampak pada penyerangan kepada pesantren Babakan. Belanda tak hanya menghancurkan bangunan pesantren tersebut, tetapi juga membakar kitab-kitab dan naskah penting.
Perjuangan para kiai dan santri ini tak sia-sia. Mereka berhasil menggagalkan rencana Belanda untuk melumpuhkan pusat pemerintahan Indonesia. Mereka berhasil. Dan Belanda harus menelan kenyataan pahit saat itu. Kenyataan bahwa mereka tak bisa menguasai Indonesia kembali. Kenyataan bahwa kekayaan alam Indonesia tak dapat menumbuhkan perekonomian negaranya yang hancur setelah kalah dalam Perang Dunia II.
Peran santri dalam perjalanan sejarah bangsa ini dimulai dari sebelum kemerdekaan hingga saat ini. Mengapresiasi keberanian, kerja keras, semangat, keringat, darah, dan segala pengorbanan, 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional oleh Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
