Berita Utama

RSUD Luwuk: Menata Prioritas Kesehatan di Tengah Keterbatasan Anggaran

Supriadi Lawani

Hal serupa terlihat pada layanan urologi. Hingga kini, Banggai belum memiliki dokter urologi, sementara kasus batu ginjal, gangguan saluran kemih, dan pembesaran prostat cukup sering ditemui. Tanpa dokter urologi, tindakan dasar endoskopi atau ESWL belum dapat diberikan di dalam daerah.

Pada kasus penyakit ginjal, layanan hemodialisis tersedia, tetapi ketiadaan dokter nefrolog membuat penanganan komplikasi berat tetap mengandalkan rujukan ke luar daerah.

Rangkaian kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan paling mendasar RSUD Luwuk bukan terletak pada bangunan fisik, melainkan pada kapasitas layanan yang ditentukan oleh dokter dan alat.

Kontradiksi Pembangunan Fisik di Masa Fiskal Ketat

Dalam situasi pengetatan anggaran nasional, banyak daerah menunda proyek-proyek fisik berskala besar dan memprioritaskan belanja yang berdampak langsung pada pelayanan publik. Namun Kabupaten Banggai memilih tetap mengalokasikan perhatian pada pembangunan gedung rumah sakit.

Secara politis, bangunan baru mudah terlihat hasilnya. Namun secara kebijakan kesehatan, pembangunan fisik tidak serta-merta meningkatkan kualitas layanan, terlebih jika kebutuhan dasar belum terpenuhi. Pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa rumah sakit megah dapat menjadi tidak efektif jika kekurangan dokter spesialis, peralatan intervensi, atau dukungan manajemen layanan.

Bagikan: