Berita Utama

Perayaan HUT Banggai ke-66: Efisiensi yang Berpindah?

Akibatnya, klaim keberhasilan pembangunan lebih mudah diterima, sementara budaya kritis perlahan menyusut.

AWK dan Redupnya Wacana Efisiensi

Fenomena meredupnya wacana efisiensi ini dapat dibaca melalui perspektif Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough yang membagi analisis ke dalam tiga dimensi: teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Fenomena HUT Banggai juga menarik karena mengisi ruang kajian AWK yang selama ini lebih banyak berfokus pada media massa nasional dibandingkan komunikasi pemerintahan daerah (Anjayani & Hudiyono, 2023; Pribadi et al., 2024).

Pada level teks, kata “efisiensi” nyaris tidak muncul dalam pemberitaan mengenai HUT Banggai. Sebagai gantinya, muncul istilah seperti “sinergi”, “sponsorship”, “kolaborasi”, dan “bergerak maju”. Pergeseran diksi ini bukan sekadar kebetulan linguistik, melainkan pola yang dalam berbagai riset komunikasi politik sering digunakan untuk menonjolkan narasi keberhasilan dan citra kedekatan pemerintah, sembari meredupkan kerangka yang berpotensi mengundang kritik (Azmi et al., 2022; Prana Wukir et al., 2023).

Pada level praktik wacana dan praktik sosial, hampir seluruh liputan mengenai HUT Banggai mengutip rilis resmi pemerintah daerah, mulai dari pidato gubernur hingga sambutan bupati. Narasi yang muncul nyaris identik di berbagai media tanpa menghadirkan suara pembanding dari DPRD, akademisi, maupun masyarakat.

Bagikan: