Namun, di sinilah makna efisiensi tampak bergeser. Efisiensi yang semestinya bermakna pengurangan, penyederhanaan, dan ketepatan penggunaan sumber daya berubah menjadi pengalihan sumber pembiayaan. Dengan kata lain, panggung tetap berdiri, acara tetap berlangsung spektakuler, hanya sumber dananya yang berpindah kepada pihak ketiga.
Padahal, perpindahan sumber pembiayaan tidak membuat legitimasi politik ikut berpindah kepada para sponsor. Publik tidak melihat siapa saja yang membiayai kegiatan tersebut. Yang tampil di atas panggung tetap pemerintah, dan narasi keberhasilan yang disampaikan kepala daerah tetap melekat sebagai citra pemerintah, terlepas dari siapa yang membayar.
Akhirnya, efisiensi anggaran negara mungkin berhasil dilakukan secara administratif, tetapi semangat yang dikandungnya—kesederhanaan dan ketepatan penggunaan anggaran di tengah kondisi fiskal yang ketat—justru tampak memudar sebelum benar-benar dipraktikkan.
Di sela-sela perayaan, panggung juga menyajikan berbagai angka statistik mengenai pertumbuhan ekonomi, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga penurunan angka kemiskinan. Jika data tersebut memang bersumber dari BPS, tentu validitasnya memiliki dasar. Namun, penyajiannya dalam suasana perayaan yang meriah membuat publik sulit melakukan verifikasi secara kritis. Drone dan hiburan tentu jauh lebih menarik perhatian dibandingkan menguji keabsahan data yang dipaparkan.
