Untuk tahap awal, tabung CNG yang digunakan masih didatangkan dari China. Tabung tersebut merupakan Tipe 4 berbahan komposit serat fiber (composite) yang mampu menahan tekanan sangat tinggi, sekitar 200 hingga 250 bar.
Indonesia sendiri belum memiliki industri yang memproduksi tabung CNG bertekanan tinggi secara massal sehingga pemerintah masih mengandalkan impor sembari mendorong transfer teknologi.
Proyek percontohan diperkirakan membutuhkan sedikitnya 100 ribu tabung.
Apabila seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, implementasi awal ditargetkan mulai Juli 2026, dengan lokasi percontohan difokuskan di sejumlah kota besar di Pulau Jawa.
Program ini menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menekan impor LPG yang selama ini masih mendominasi kebutuhan nasional.
Data Kementerian ESDM menunjukkan sekitar 75–80 persen kebutuhan LPG Indonesia masih dipenuhi melalui impor.
Sebaliknya, Indonesia memiliki cadangan gas alam yang cukup besar sehingga pemanfaatannya dinilai lebih efisien untuk kebutuhan rumah tangga.
Selain mengurangi ketergantungan impor, pemerintah berharap penggunaan CNG mampu menekan beban subsidi energi sekaligus menghemat devisa negara.
Secara ekonomi, pemerintah memperkirakan harga CNG dapat lebih murah sekitar 30–40 persen dibandingkan LPG, meskipun skema harga resmi masih akan ditetapkan setelah program berjalan.
