BANGGAIPOST.COM, PALU – Sebuah video pendek yang memperlihatkan momen hangat antara H. Muhidin Mohamad Said dan Wali Kota Palu Hadianto Rasyid membuka kembali perbincangan publik terkait pera politik Sulawesi Tengah. Dalam rekaman yang beredar di media sosial, keduanya tampak saling berpelukan erat, tersenyum lebar, dan berbincang akrab sebelum berpisah.
Bagi sebagian masyarakat, video tersebut mungkin hanya menggambarkan pertemuan dua sahabat lama. Namun di kalangan pengamat politik, gestur itu dinilai memiliki makna yang lebih luas. Terlebih, momen tersebut muncul ketika suhu politik Sulawesi Tengah mulai menghangat meski Pilgub 2030 masih beberapa tahun lagi.
Muhidin Mohamad Said merupakan salah satu tokoh senior Partai Golkar Sulawesi Tengah yang memiliki jaringan politik luas. Sementara Hadianto Rasyid kini menjadi salah satu kepala daerah dengan tingkat popularitas yang cukup tinggi di provinsi ini, setelah kembali memenangkan Pilkada Kota Palu bersama Imelda Liliana Muhidin, putri Muhidin Mohamad Said.
Hubungan politik kedua keluarga memang bukan cerita baru. Kolaborasi Hadianto dan Imelda dalam Pilkada Kota Palu 2024 menjadi bukti kedekatan yang selama ini terbangun. Karena itu, kemunculan video pelukan keduanya kembali memantik spekulasi mengenai arah komunikasi politik yang sedang dibangun.
Pengamat menilai, dalam politik Indonesia, simbol-simbol kedekatan seperti pelukan, kebersamaan dalam satu forum, hingga pertemuan informal sering kali menjadi awal dari komunikasi politik yang lebih serius. Meski tidak selalu berujung pada koalisi, gestur semacam itu hampir selalu menarik perhatian publik.
Spekulasi kemudian berkembang ke arah Pilgub Sulawesi Tengah 2030.
Nama Hadianto Rasyid disebut-sebut sebagai salah satu figur yang berpotensi meramaikan kontestasi. Dengan basis dukungan yang kuat di Kota Palu dan sejumlah wilayah lainnya, peluang Hadianto untuk naik ke level provinsi dinilai cukup terbuka apabila mendapat dukungan koalisi partai besar.
Di sisi lain, Golkar melalui pengaruh Muhidin Mohamad Said dinilai masih menjadi salah satu kekuatan politik yang diperhitungkan dalam menentukan arah koalisi. Jika kedekatan keduanya terus terjaga, bukan tidak mungkin muncul poros politik baru menjelang Pilgub mendatang.
Berbagai skenario pun mulai bermunculan. Ada yang memprediksi Golkar akan menjadi salah satu partai pengusung Hadianto apabila ia maju sebagai calon gubernur. Ada pula yang berspekulasi Hadianto dapat membangun komunikasi politik yang lebih luas, termasuk dengan petahana Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, sehingga melahirkan konfigurasi koalisi yang berbeda.
Meski demikian, hingga kini seluruh pembahasan tersebut masih berada pada tataran spekulasi politik. Belum ada pernyataan resmi dari Hadianto Rasyid, Muhidin Mohamad Said maupun Partai Golkar mengenai arah dukungan atau rencana menghadapi Pilgub Sulawesi Tengah 2030.
Namun satu hal yang sulit dibantah, video pelukan hangat antara Muhidin dan Hadianto berhasil memantik diskusi publik. Di dunia politik, sebuah gestur sederhana kerap dimaknai lebih dari sekadar sapaan. Ia bisa menjadi simbol persahabatan, komunikasi, hingga kemungkinan lahirnya peta koalisi baru pada kontestasi politik yang akan datang.(Alin)












