Oleh: Supriadi Lawani*
Sampai hari ini saya belum pernah mendengar ada seorang bupati yang benar-benar serius mengembangkan sastra di daerahnya. Mungkin ada yang sesekali membuka festival budaya, menghadiri peluncuran buku, atau memberikan sambutan dalam lomba menulis. Namun, seorang kepala daerah yang sungguh-sungguh menjadikan sastra sebagai bagian dari agenda pembangunan, rasanya masih sangat langka.
Termasuk di daerah saya, Kabupaten Banggai.
Entah mengapa sastra sering dianggap tidak penting. Mungkin karena sastra tidak menghasilkan uang sebanyak tambang. Tidak meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) secara langsung seperti investasi. Tidak menghadirkan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang mudah dipamerkan dalam laporan kinerja.
Padahal, jika menoleh ke belakang, sejarah manusia selalu berjalan beriringan dengan sastra.
Bangsa-bangsa besar tidak hanya membangun gedung, jalan raya, dan pelabuhan. Mereka juga membangun cerita, puisi, novel, dan tradisi literasi. Bahkan kitab-kitab suci yang membentuk peradaban dunia banyak ditulis dengan kekuatan bahasa yang begitu puitis. Manusia tidak hidup hanya dengan roti, tetapi juga dengan makna.
Karena itu, saya sering membayangkan sesuatu yang mungkin terdengar sederhana.
