Ia tidak menggelar konferensi pers. Ia tidak membangun narasi tentang dirinya sebagai penyelamat ekonomi. Ia tidak meminta penghargaan.
Ia hanya bertindak.
Di situlah barangkali letak perbedaan antara nasionalisme yang diucapkan dan nasionalisme yang dijalankan.
Dalam kehidupan publik hari ini, kata nasionalisme sering diucapkan dengan mudah. Ia hadir dalam pidato, seminar, media sosial, hingga spanduk-spanduk peringatan hari besar nasional.
Namun sejarah menunjukkan bahwa nasionalisme sering kali hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.
Membayar pajak dengan jujur.
Menjalankan usaha dengan baik.
Membuka lapangan pekerjaan.
Menjaga kepercayaan terhadap perekonomian nasional ketika keadaan sedang sulit.
Murad Husain menunjukkan bentuk nasionalisme yang terakhir itu.
Ia tidak sedang berpolitik. Ia tidak sedang mencari popularitas. Ia sedang mengambil keputusan sebagai seorang warga negara yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap bangsanya.
Murad Husain dikenal sebagai pendiri dan pemilik PT Kurnia Luwuk Sejati, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tumbuh di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Dari daerah yang jauh dari pusat kekuasaan, ia membangun usaha dan menggerakkan roda ekonomi lokal. Banyak orang mengenalnya sebagai pengusaha. Sebagian mengenalnya sebagai tokoh masyarakat.
