Di sana, mereka belajar bahwa bahagia dunia hanyalah persinggahan, sementara ridha Allah adalah tujuan pulang yang sesungguhnya.
Andhika, laki-laki yang tenang dalam sikap, lapang dalam hati. Ia tidak tumbuh untuk merasa lebih tinggi, meski dibesarkan dalam kehormatan. Ia hadir tanpa sekat, mendengar tanpa merasa lebih tahu,menjaga tanpa merasa memiliki. Betapa beruntung orang tua yang melahirkan generasi dengan jiwa sepertinya; dan betapa lebih beruntung perempuan yang menjadikannya pangeran dalam hidupnya. Dan Andhika pun adalah pangeran yang dipelihara doa, karena dianugerahi ratu, perempuan salehah yang kelak menjadi teman sujud dan pulang jiwanya.
Namun, di balik khidmat akad dan senyum yang dipeluk kamera, ada cinta lain yang bekerja dalam diam. Cinta orang tua, yang pada titik tertentu harus belajar melepaskan genggaman. Amanah yang dijaga seumur hidup kini berjalan dengan arah sendiri. Air mata yang jatuh bukan tanda kehilangan, melainkan tanda ikhlas yang paling jujur:nbahwa mencintai kini berubah bentuk, dari menjaga dengan kehadiran, menjadi merestui dengan jarak. Dan cinta yang dilepas dengan ikhlas tidak pernah benar-benar pergi.
Ia berubah menjadi doa yang tak putus,menjadi pelindung yang tak tampak,menjadi rahmat yang bekerja tanpa suara.
