Oleh: Syarif Tayeb
Tulisan ini tidak datang untuk mengajari. Ia hadir sebagai titipan, doa yang tak bersuara, rasa yang tak meminta dipahami. Sebab cinta yang sejati tidak pernah menuntut penjelasan; ia cukup dihadirkan, lalu dijaga.
Dan hari ini, ketika akad diucapkan, cinta itu berpindah dari rasa menjadi amanah.Pernikahan bukan sekadar perayaan bahagia.
Pernikahan adalah keberanian paling sunyi: keberanian dua insan untuk pulang pada satu arah, menjadikan cinta sebagai ibadah, hidup sebagai pengabdian, dan kebersamaan sebagai jalan menuju ridha Allah. Pada hari akad, bukan hanya dua nama yang dipersatukan, melainkan dua jiwa yang sepakat untuk saling menundukkan ego, menenangkan langkah, dan bertahan, bahkan ketika perasaan tidak selalu berbunga.
Cinta sejati tidak selalu datang sebagai getar yang riuh. Ia kerap hadir sebagai ketenangan yang nyaris tak terdengar, ketenangan yang Allah titipkan pada hati-hati yang bersedia berjalan jauh tanpa janji yang tergesa. Tenang untuk menunggu, sabar untuk memahami,dan lapang untuk memaafkan.
Dalam perjalanan itu, mungkin saja Andhika dan Prita melangkah dengan ritme yang berbeda dalam hal sederhana, kemarin saat akad belum terucap, cara mereka menemukan istirahat tidak selalu sama. Yang satu merasa pulas dalam tidurnya ketika cahaya masih menyisakan terang, sementara yang lain hanya benar-benar menemukan kualitas tidur yang utuh dalam suasana gelap.Pernikahan kemudian tidak meminta salah satunya berubah tetapi justru mengajarkan seni menjaga cinta. Menyalakan cahaya tanpa menyilaukan,dan menerima gelap tanpa rasa takut. Di sanalah cinta belajar berbicara tanpa suara hadir sebagai kerinduan tak berujung, dan tinggal sebagai kesetiaan.
Dalam malam-malam sederhana, cinta diuji bukan oleh kata, melainkan oleh kesediaan:mengalah tanpa merasa kalah, menyesuaikan tanpa merasa hilang. Setiap kompromi kecil menjadi doa yang hidup, setiap penyesuaian menjadi sedekah yang tak terlihat, dan kehadiran yang setia, meski tanpa kalimat manis, menjadi bentuk kasih paling jujur.
Rumah tangga kemudian menjelma madrasah tanpa dinding. Tempat dua manusia belajar bahwa cinta bukan hanya tentang membahagiakan, tetapi juga menuntun, pelan, sabar, dan penuh adab. Menegur tanpa melukai, menguatkan tanpa menggurui.
Di sana, mereka belajar bahwa bahagia dunia hanyalah persinggahan, sementara ridha Allah adalah tujuan pulang yang sesungguhnya.
Andhika, laki-laki yang tenang dalam sikap, lapang dalam hati. Ia tidak tumbuh untuk merasa lebih tinggi, meski dibesarkan dalam kehormatan. Ia hadir tanpa sekat, mendengar tanpa merasa lebih tahu,menjaga tanpa merasa memiliki. Betapa beruntung orang tua yang melahirkan generasi dengan jiwa sepertinya; dan betapa lebih beruntung perempuan yang menjadikannya pangeran dalam hidupnya. Dan Andhika pun adalah pangeran yang dipelihara doa, karena dianugerahi ratu, perempuan salehah yang kelak menjadi teman sujud dan pulang jiwanya.
Namun, di balik khidmat akad dan senyum yang dipeluk kamera, ada cinta lain yang bekerja dalam diam. Cinta orang tua, yang pada titik tertentu harus belajar melepaskan genggaman. Amanah yang dijaga seumur hidup kini berjalan dengan arah sendiri. Air mata yang jatuh bukan tanda kehilangan, melainkan tanda ikhlas yang paling jujur:nbahwa mencintai kini berubah bentuk, dari menjaga dengan kehadiran, menjadi merestui dengan jarak. Dan cinta yang dilepas dengan ikhlas tidak pernah benar-benar pergi.
Ia berubah menjadi doa yang tak putus,menjadi pelindung yang tak tampak,menjadi rahmat yang bekerja tanpa suara.
Doa orang tua melampaui hari akad,menyertai setiap langkah,menenangkan setiap guncangan, hingga akhir perjalanan.
Semoga Andhika dan Prita selalu menemukan pulang di satu sama lain, bahkan ketika dunia terasa menjauh. Semoga cinta ini tumbuh pelan, dalam, dan setia,menjadi ibadah yang panjang,hingga kelak kata-kata tak lagi dibutuhkan,dan yang tersisa hanyalah rasa yang tenang—abadi, dan diridhai-Nya.
Selamat menempuh hidup baru, Andhika dan Prita. Selamat kepada kedua orang tua, Ir.Chairudin Norman bersama Hj.Sulianti Murad,SH,.MM dan Drs.Pritono bersama Dra.S Ratna Indah Nawang Wulan. Dengan cinta dan keikhlasan telah menghantarkan amanah terindah menuju jalan pengabdian yang lebih luas.***












