Namun sejarah menunjukkan, organisasi yang bertahan lama bukanlah organisasi yang paling kaku menjaga tradisi, melainkan yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Karena itu, dinamika yang terjadi di PAN Banggai seharusnya tidak dibaca secara hitam-putih. Pengunduran diri sejumlah kader adalah hak politik yang harus dihormati. Tetapi pada saat yang sama, langkah pembaruan organisasi yang dilakukan H. Akmal Ilyas juga layak dipahami sebagai bagian dari strategi membangun PAN Banggai agar tetap relevan di tengah perubahan politik yang semakin cepat.
Politik bukan sekadar soal mempertahankan romantisme perjuangan lama, tetapi juga tentang bagaimana organisasi mampu tetap hidup, berkembang, dan memenangkan kepercayaan publik di masa depan.**
