Oleh:
Algazali Lasalingi, S. Pd
Warga Luwuk Timur
Ada jalan yang setiap hari dilalui masyarakat tanpa banyak suara. Jalan poros yang menghubungkan Desa Lontos, Indang Sari, dan Lauwon ini bukan sekadar bentangan aspal, melainkan urat nadi kehidupan warga. Sayangnya, kondisi jalan tersebut telah lama mengalami kerusakan dan belum mendapat penanganan yang menyeluruh.
Kerusakan jalan memaksa kendaraan melaju pelan. Bukan karena kehati-hatian semata, melainkan karena risiko yang nyata. Lubang, genangan saat hujan, serta permukaan yang tidak rata menjadikan setiap perjalanan sebagai ujian kesabaran dan kewaspadaan. Dalam situasi seperti itu, doa sering kali menjadi pelengkap perjalanan, agar selamat sampai tujuan.
Memang, di beberapa titik jalan ini pernah dilakukan penambalan. Namun sifatnya masih sementara. Tambal sulam hanya cukup membuat jalan bisa dilewati, bukan memberi rasa aman dan kenyamanan jangka panjang. Padahal jalan ini merupakan satu-satunya akses utama bagi masyarakat.
Melalui jalan inilah anak-anak berangkat ke sekolah, membawa mimpi dan harapan masa depan. Jalan ini pula yang dilalui warga menuju puskesmas saat membutuhkan layanan kesehatan. Tak kalah penting, jalan tersebut menjadi jalur ekonomi bagi petani dan pedagang untuk menjual hasil kebun ke pasar. Ketika akses ini terganggu, maka pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat ikut terdampak.
Secara geografis, jarak ke ibu kota kabupaten hanya sekitar 40 kilometer. Di atas peta, jarak itu terlihat dekat. Namun dalam realitas sehari-hari, terutama saat hujan turun, jarak tersebut terasa jauh dan melelahkan. Kendaraan sering kali harus berhenti, memilih antara melanjutkan perjalanan atau menunggu kondisi memungkinkan.
Masyarakat jarang mengeluh secara terbuka. Bukan karena tidak merasakan lelah atau kecewa, melainkan karena kekhawatiran dianggap tidak sabar atau terlalu menuntut. Namun penting dipahami, kesabaran tidak sama dengan pasrah tanpa harapan. Kesabaran justru berjalan berdampingan dengan ikhtiar dan doa.
Harapan masyarakat sesungguhnya sederhana. Mereka percaya bahwa pemerintah memiliki niat baik untuk membangun daerah secara merata. Dengan adab dan keyakinan, masyarakat berharap agar jalan poros Lontos–Indang Sari–Lauwon tidak lagi dipandang sebagai persoalan kecil yang cukup ditangani sementara, melainkan sebagai kebutuhan mendasar yang harus dibangun secara serius dan berkelanjutan.
Pembangunan infrastruktur bukan semata soal beton dan aspal, tetapi soal rasa aman, keadilan, dan kehadiran negara di tengah masyarakat. Ketika jalan dibangun dengan baik, bukan hanya kendaraan yang melaju lancar, tetapi juga harapan dan kepercayaan masyarakat terhadap masa depan.
Semoga suatu hari nanti, jalan yang selama ini diam-diam didoakan itu benar-benar menjadi jalan yang layak dilalui, tanpa cemas, dan dengan hati yang lebih lapang.(Alin)












