Berita Utama

Hadianto–Pasha: Tes Ombak atau Mulai Konsolidasi?

Hadianto datang dengan modal kekuasaan yang nyata. Dua kali memenangkan Pilwako Palu dengan angka dominan membuat posisinya tidak bisa dianggap sekadar kepala daerah biasa. Ia menguasai ibukota provinsi, punya jaringan birokrasi, mesin partai Hanura di daerah, serta citra pemimpin lapangan yang aktif turun langsung. Bisa dibilang, kalau ada tokoh politik yang saat ini memiliki “magnitude” paling kuat selain gub Anwar Hafid, dia adalah Hadianto.

Di sisi lain, Pasha punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak politisi lokal: popularitas nasional. Bahkan, nama “Pasha Ungu” mungkin jauh lebih dikenal dibanding PAN itu sendiri di banyak tempat. Basis pemilih muda, efek selebritas, pengalaman sebagai Wawali Palu, hingga status anggota DPR RI membuatnya tetap relevan dalam peta politik Sulteng.

Namun ada sisis enariknya. Data historis menunjukan bahwa dua figur ini bukan berasal dari sejarah politik yang sepenuhnya harmonis. Pada Pilkada Palu 2015, mereka justru berada di kubu berseberangan. Hadi menjadi rival pasangan Hidayat–Pasha. Tapi, sekali lagi lupa pada adigium: tidak ada musuh abadi di politik. Rival kemarin, siapa tahu besok menjadi sekutu.

Bagikan: