Dalam jawabannya, Hadianto juga menyebut pengalaman Jepang sebagai salah satu referensi dalam membangun perencanaan yang lebih inklusif.
โPerencanaan terkait disabilitas di daerah kami berasal dari pembelajaran yang kami lakukan sendiri, tetapi juga dari Jepang. Kami berusaha menjangkau setiap orang dan setiap sudut wilayah,โ katanya.
Jawaban tersebut kemudian mendapat tepuk tangan dari peserta konferensi.
Bagi Hadianto, membangun ketangguhan bencana bukan hanya soal infrastruktur, teknologi atau sistem peringatan dini. Ada masyarakat yang harus ditempatkan sebagai bagian penting dari proses tersebut.
Termasuk penyandang disabilitas.
Mereka bukan hanya kelompok yang harus diselamatkan ketika bencana terjadi, tetapi juga harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, pengambilan keputusan hingga pemulihan.
Prinsipnya sederhana: tidak boleh ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal dalam upaya membangun ketangguhan menghadapi bencana.(Rbp)
