Ia mengungkap, warga pernah mempertanyakan mengapa aliran air di jalur mereka selalu lemah, sementara jalur lain justru mengalir deras. Namun jawaban yang diterima dinilai tidak masuk akal.
“Katanya jalur pipanya berbeda. Tapi anehnya, kondisi jalur bisa berubah-ubah,” ungkap Nafis.
Masalah tak berhenti di situ. Nafis menyebut warga sempat ditawari pindah ke jalur distribusi yang airnya lebih kencang, dengan syarat membayar biaya pemindahan.
“Kalau mau pindah jalur, harus bayar. Dulu sekitar Rp3,5 juta,” tulisnya.
Demi mendapatkan air yang lancar, sejumlah warga akhirnya patungan membayar biaya tersebut. Namun, harapan itu hanya bertahan sementara.
“Setelah kami pindah, jalur lama yang tadinya macet tiba-tiba kembali kencang. Ini berulang. Seolah-olah jalur pipa sengaja dipindah-pindahkan,” tegas Nafis.
Ia menduga praktik tersebut merupakan cara licik oknum lapangan untuk memanfaatkan penderitaan masyarakat.
