Di sisi lain, pemerintah juga mengklaim kondisi ekonomi nasional masih cukup solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat sekitar 5,61 persen year on year (yoy).
Capaian itu disebut menjadi indikator bahwa kebijakan menjaga stabilitas konsumsi masyarakat masih efektif menopang ekonomi domestik.
Meski demikian, kebijakan subsidi BBM tetap menuai perdebatan. Sejumlah ekonom menilai subsidi energi kerap tidak tepat sasaran karena turut dinikmati kelompok masyarakat mampu dan berpotensi membebani APBN saat harga minyak melonjak.
Namun pemerintah memastikan defisit anggaran tetap dijaga pada level aman, sekitar 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Kebijakan tersebut juga dinilai sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah.(rdk)
