Itulah salah satu penyebab generasi muda Indonesia tidak berlomba-lomba di bidang pengetahuan. Mereka lebih suka mencari jalan pintas pragmatis. Meski begitu, saya tetap optimis: suatu saat akan kembali era di masa awal kemerdekaan, ketika manusia Indonesia lebih haus ilmu daripada haus jabatan.
Harapan Baru dari Generasi Z
Beberapa waktu lalu, ada berita menggembirakan: Generasi Z mulai bangkit dengan literasi, membeli buku, dan berkumpul dalam komunitas membaca. Sebuah tanda bahwa gairah ilmu pengetahuan belum padam sepenuhnya.
Harapan saya lainnya: suatu hari lahir yayasan filantropi desa yang fokus pada riset dan pengembangan teknologi sederhana. Dari desa bisa lahir pemikir besar, ahli matematika, bahkan fisikawan yang menciptakan mesin cerdas lebih pintar dari Grok atau ChatGPT. Desa yang modern tapi tetap tradisional, dengan masyarakat yang gemar membaca, menulis, dan berdiskusi.
Itulah imajinasi saya tentang Indonesia: negara yang bukan hanya pandai bikin meme politik, tapi juga menghasilkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
