“Pola yang sama mulai terlihat. Bukan pengulangan persis 1998, tetapi arah kecenderungannya harus dibaca dengan serius,” katanya.
Meski demikian, Ikhsan menegaskan fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih kuat dibanding era krisis dua dekade lalu. Cadangan devisa dinilai relatif aman, sektor perbankan lebih kokoh pasca-reformasi, dan sistem nilai tukar mengambang dinilai mampu menyerap guncangan eksternal dengan lebih baik.
Karena itu, menurutnya, ancaman terbesar saat ini bukan semata krisis ekonomi, melainkan hilangnya kredibilitas pemerintah di mata publik dan pasar.
“Kita masih punya ruang yang besar untuk berbalik arah,” tegasnya.
Ia mendorong pemerintah untuk kembali fokus pada penguatan kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, reformasi struktural yang nyata, serta penegakan aturan hukum secara konsisten.
Pernyataan Prof. Ikhsan tersebut menjadi perhatian karena muncul di tengah meningkatnya diskusi publik mengenai arah ekonomi nasional, termasuk setelah sejumlah media internasional menyoroti kondisi fiskal dan tata kelola Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.(Rdk)
