Jika menggunakan kacamata Faisal Basri, pelemahan ekonomi bukan hanya soal angka-angka makro, melainkan juga soal bagaimana elite merespons tekanan tersebut. Ketika ruang fiskal menyempit dan kontestasi politik semakin dekat, potensi pergeseran aliansi menjadi lebih besar.
Apakah yang terjadi hari ini benar-benar sesuai dengan skenario yang pernah digambarkan Faisal Basri? Tentu masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Namun, setidaknya editorial Tempo dan prediksi Faisal Basri sama-sama mengingatkan bahwa ekonomi dan politik sering berjalan dalam satu tarikan napas.
Sejarah yang akan memberikan jawabannya. Untuk sementara, kita cukup mencatat bahwa ketika ekonomi mulai bergejolak, dinamika kekuasaan biasanya ikut bergerak.(*)
