Kritik serupa datang dari anggota Komisi XI lainnya, Harris Turino. Ia mempertanyakan efektivitas seluruh instrumen kebijakan yang telah digunakan BI untuk menahan tekanan terhadap rupiah.
“Semua amunisi sudah dipakai. Intervensi dilakukan, instrumen moneter dikeluarkan, tapi rupiah tetap melemah. Ini yang dipertanyakan publik,” ujarnya.
Suasana rapat semakin memanas saat Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Dolfie Othniel Frederic Palit, menginterupsi penjelasan Perry Warjiyo ketika menyebut kondisi rupiah masih “stabil”.
Dolfie mempertanyakan definisi stabilitas yang digunakan BI. Menurutnya, stabilitas tidak bisa hanya diukur dari tingkat volatilitas sebesar 5,4 persen, tetapi juga harus melihat level kurs yang sudah sangat tinggi.
“Kalau rupiah di Rp17 ribu lebih tapi disebut stabil, stabil menurut siapa?” sindirnya dalam rapat.
Selain isu nilai tukar, anggota DPR juga menyoroti derasnya arus modal keluar (capital outflow), melemahnya kepercayaan investor, hingga faktor domestik yang dianggap memperburuk tekanan terhadap rupiah.
Menjawab kritik tersebut, Perry Warjiyo menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik, termasuk ketidakpastian ekonomi dunia dan penguatan dolar AS secara luas.
