Berita Utama

Refleksi Tentang Pemuda: Dari Rengasdengklok ke Ruang Rapat Ormas

Sutan Syahrir pernah mengingatkan bahwa bangsa merdeka tidak bisa dibangun dengan semangat yang kaku dan pikiran yang malas. Ia takut, pemuda Indonesia tumbuh seperti pasukan barisan tanpa arah—berbaris rapi, tapi tak tahu mengapa melangkah.

Syahrir membayangkan kaderisasi sebagai ruang berpikir, bukan sekadar tempat menunggu giliran memimpin.
Latihan intelektual dan moral lebih penting daripada latihan kedisiplinan formal.
Kemandirian berpikir, bukan kepatuhan struktural, adalah inti kepemudaan.

Pemuda yang tidak diberi ruang untuk salah, takkan pernah tumbuh untuk benar.

Hatta: Pemuda yang Mandiri, Bukan Pelengkap Struktural

Bagi Mohammad Hatta, kaderisasi bukan urusan serah terima jabatan, melainkan proses menumbuhkan kesadaran. Pemuda harus punya tanggung jawab sosial, bukan sekadar jabatan organisatoris.

Ia membayangkan pemuda yang mampu berpikir bebas tapi berakar pada nilai. Pendidikan politik, pengalaman nyata, dan refleksi moral harus berjalan bersamaan tanpa salah satunya, bukan pemuda yang akan menjadi pejabat magang, tapi agen perubahan.

Belajar dari Masa Kolonial: Jejak Parindra di Jambi

Sekitar 1940, di Jambi, berdiri cabang Parindra yang dipelopori Dr. Sagaf Yahya. Meski kooperatif terhadap Belanda, mereka menanamkan pendidikan politik dari bawah melalui diskusi dan keterlibatan rakyat.

Bagikan: