Menurutnya, justru karena dua kutub itu sama-sama kuat, ruang politik Banggai sedang menunggu lahirnya poros ketiga — sebuah poros tengah yang tidak dibangun dari sentimen anti-petahana maupun anti-Murad, melainkan dari gagasan pembangunan yang lebih luas.
“Sekarang orang melihat politik Banggai hanya dua warna,” katanya. “Padahal masyarakat tidak semuanya berada di salah satu kubu itu.”
Ia lalu menyebut sebuah nama: Gubernur Anwar Hafidz. Tentu saja saya paham maksudnya. Anwar bukan lah calon yang akan turun langsung di gelanggang Pilkada Banggai, melainkan sebagai simbol dan poros yang bisa menjadi titik temu. Sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sulteng, Anwar dianggap bisa menjadi gerbong bagi kekuatan ketiga yang lebih luas
Saya terdiam beberapa detik. Bukan karena nama itu asing, melainkan karena bobotnya.
Secara politik, Anwar Hafidz bukan orang luar bagi Banggai. Jejaknya kuat, pengalaman birokrasi panjang, jaringan pemerintahan luas, dan posisinya sebagai gubernur memberinya exposure yang tidak dimiliki banyak tokoh. Yang lebih penting, ia bisa dilihat sebagai simbol sekaligus gerbong Partai Demokrat Sulteng. Partai yang pada Pileg lalu tidak memperoleh satu kursi pun di DPRD Kabupaten Banggai. Ini jelas menjadi kepentingan strategis bagi Demokrat untuk membangun kekuatan di salah satu kabupaten terbesar di Sulteng.
