Yakni pada tanggal 4 Januari, tahun 1965, sebanyak 180 kepala keluarga berangkat dari Surabaya menggunakan KM Klingi dari pelabuhan Tanjung Perak.
KM Klingi sempat singgah di pelabuhan Makassar tanggal 7 Januari untuk melakukan bongkar muat. Kemudian tanggal 16 Januari kembali melanjutkan kembali perjalanan menuju Kabupaten Banggai.
“Tanggal 19 Januari KM Klingi berlabuh di luar pantai Moilong, karena belum ada pelabuhan sehingga warga transmigrasi diturunkan ke perahu tongkang untuk mengangkut ke pantai atau daratan,” tuturnya.
Sulyadi mengaku, saat itu rumah warga trans yang pertama belum dibuatkan serta lokasi pemukiman masih hutan belukar, sehingga warga trans harus menebang sendiri pohon dan belukar yang ada untuk membuat pondok.
“Pemberian jatah makanan untuk warga transmigrasi telah habis, sempat terjadi krisis bahan makanan, jadi warga trans berusaha mencari makanan di hutan, yaitu Gadung atau ondot, pohon aren, dan pohon sagu untuk diambil sagunya, itulah yang menjadi makanan pokok hari-hari bagi warga transmigrasi Toili unit 1,” pungkasnya. (KF)
