“Bahkan tadi ada yang datang naik mobil ikut antre. Ada juga orang tua siswa yang mengatakan kalau orang yang punya mobil saja bisa dapat bantuan, sementara warga lain yang benar-benar membutuhkan justru kesulitan,” tuturnya.
Meski demikian, pernyataan tersebut masih berupa dugaan dan belum dapat dipastikan apakah penerima yang dimaksud benar-benar tidak memenuhi kriteria sebagai penerima Program Indonesia Pintar.
Keluhan lainnya datang dari warga yang berasal dari wilayah cukup jauh, seperti Kecamatan Simpang Raya dan daerah lainnya. Mereka disebut harus berangkat sejak dini hari demi mendapatkan nomor antrean.
“Kasihan warga yang datang dari jauh. Ada yang berangkat sejak pukul 04.00 hingga 05.00 subuh karena mendapat informasi sebagai penerima bantuan. Mereka datang jauh-jauh, tetapi akhirnya tidak kebagian nomor antrean,” ungkapnya.
Ia menilai situasi tersebut menimbulkan kekecewaan karena, menurut pengakuannya, ada warga yang datang lebih siang tetapi tetap memperoleh nomor antrean, sementara mereka yang telah lama menunggu justru harus pulang tanpa dilayani.
